keraton tertua dan terbesar di Cirebon, memiliki sejarah panjang yang dimulai dari nama aslinya, Keraton Pakungwati. Nama ini memiliki makna mendalam, diambil dari Ratu Ayu Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuwana dan istri dari Sunan Gunung Jati. Sebutan ini melekat pada keraton tersebut selama berabad-abad, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi nama yang kita kenal sekarang, menyimpan kisah yang tak ternilai harganya.
Penamaan Keraton Pakungwati sebagai penghormatan kepada Ratu Ayu Pakungwati menunjukkan peran penting beliau dalam sejarah awal Kesultanan Cirebon. Sebagai putri dari pendiri Caruban, Pangeran Cakrabuwana, dan istri dari penyebar Islam terkemuka, Sunan Gunung Jati, Ratu Ayu Pakungwati adalah sosok yang menghubungkan dua tokoh sentral ini. Kehadiran namanya pada keraton menggarisbawahi status dan pengaruhnya dalam lingkaran kekuasaan saat itu.
Pada masa awal pendiriannya oleh Pangeran Cakrabuwana, Keraton Pakungwati berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat syiar Islam di wilayah Caruban. Dari sinilah kebijakan-kebijakan kesultanan dirumuskan dan ajaran agama disebarkan. Keraton ini menjadi simbol berdirinya sebuah kekuatan baru yang berlandaskan Islam, menggantikan corak sebelumnya di wilayah Cirebon, sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Model arsitektur Keraton Pakungwati pada masa awalnya kemungkinan masih sederhana, menyesuaikan dengan kondisi saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya Kesultanan Cirebon di bawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati dan penerusnya, keraton ini terus mengalami perluasan dan perbaikan. Penambahan-penambahan ini mencerminkan pertumbuhan kekuasaan dan kemakmuran kesultanan yang terus berkembang.
Penggunaan nama “Kasepuhan” sendiri baru muncul belakangan. Perubahan nama ini terjadi setelah didirikannya Keraton Kanoman, keraton kedua di Cirebon, sekitar abad ke-17. Untuk membedakan antara keraton yang lebih tua dan yang baru, keraton yang lebih tua ini kemudian dikenal sebagai “Kasepuhan,” yang berarti “yang paling tua” atau “yang dituakan,” menggantikan nama Keraton Pakungwati.
Meskipun namanya telah berubah, esensi dan sejarah Keraton Pakungwati tetap hidup dalam nama Keraton Kasepuhan. Keraton ini masih menyimpan banyak benda pusaka dan artefak bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan Kesultanan Cirebon. Kunjungannya memberikan gambaran tentang bagaimana keraton ini berevolusi dari sebuah permulaan sederhana menjadi kompleks megah yang kita lihat hari ini.
Warisan Keraton Pakungwati mengingatkan kita akan kontribusi besar Pangeran Cakrabuwana dan Ratu Ayu Pakungwati dalam membentuk identitas Cirebon. Kisah di balik namanya adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah lokal yang kaya, yang terus dilestarikan dan diceritakan dari generasi ke generasi, memberikan gambaran yang jelas mengenai sejarah Kesultanan Cirebon.
